top of page

Mengintip Dapur Industri Shuttlecock Sidoarjo: 13 Tahun Bertahan dengan Kualitas dan Harapan Kemandirian Bahan Baku


Sidoarjo – Bulu tangkis bukan sekadar olahraga prestasi bagi Indonesia, tetapi juga penggerak ekonomi kerakyatan. Di balik tepuk riuh turnamen internasional, terdapat tangan-tangan terampil pengrajin lokal yang memastikan ketersediaan "kok" atau shuttlecock berkualitas. Salah satu sentra produksi yang menggeliat berada di Sidoarjo, Jawa Timur.


Dalam sebuah wawancara mendalam bersama tim C'ketz Manufacture, Pak Atok, seorang pengusaha shuttlecock lokal, membagikan kisah perjalanannya selama 13 tahun membangun usaha dari nol hingga mampu memproduksi ratusan slop per hari.


Dari Riset Pasar Menjadi Produsen Mandiri

Berbeda dengan banyak pengrajin lain yang meneruskan usaha turun-temurun, Pak Atok memulai bisnisnya dengan pendekatan yang unik: riset pasar terlebih dahulu.

"Saya awalnya tidak langsung produksi. Saya main ke pasar dulu, penjajakan minat barangnya seperti apa," ungkap Pak Atok.


Awalnya, ia membeli shuttlecock setengah jadi, memberikan label sendiri, dan menitipkannya di toko-toko (konsinyasi). Setelah pasarnya terbentuk dan permintaan stabil, barulah ia memberanikan diri untuk memulai produksi sendiri. Alasan utamanya memilih bisnis ini sederhana namun strategis: shuttlecock adalah barang habis pakai (repeat order tinggi) dan proses produksinya nyaris tanpa limbah.


Menjaga Kualitas di Tengah Gempuran Ekonomi

Saat ini, industri rumahan milik Pak Atok mampu memproduksi rata-rata 200 hingga 300 slop (tabung) shuttlecock siap kirim setiap harinya. Meskipun permintaan bersifat fluktuatif—biasanya memuncak di bulan Agustus saat musim turnamen—usahanya tetap bertahan meski kondisi ekonomi sedang lesu.


Kunci bertahan di industri ini menurutnya adalah keseimbangan antara kualitas dan harga. "Nomor satu pasti wajib kualitas, nomor dua kuantitas, dan nomor tiga harga yang kompetitif," jelasnya.


Standar kualitas yang ia pegang teguh adalah durabilitas. Konsumen menginginkan shuttlecock yang awet sehingga tidak boros biaya saat bermain. Untuk memenuhi standar tersebut, ia tidak main-main dalam pemilihan bahan baku.


Tantangan Bahan Baku Impor

Proses perekatan menggunakan C'ketz K-POXY Clear 21
Proses perekatan menggunakan C'ketz K-POXY Clear 21

Ironisnya, meski Indonesia adalah negara bulu tangkis, bahan baku utama shuttlecock berkualitas masih sangat bergantung pada impor.

  1. Bulu: Pak Atok menggunakan bulu impor dari Tiongkok, khususnya grade A1 atau B1. Ia mencari bulu yang "tua" dan "berisi" karena lebih keras dan memiliki kilap, sehingga tidak gembos dan lebih awet saat dipukul.

  2. Dop (Gabus): Bagian kepala shuttlecock menggunakan spons EVA yang juga diimpor dari Tiongkok.

  3. Perekat: Untuk perakitan, ia menggunakan produk lokal C'ketz K-POXY Clear 21. Menurutnya, lem ini memiliki komponen yang simpel untuk diracik, hasil rekat yang kuat, dan harga yang kompetitif.


Memberdayakan Warga Sekitar

Tenaga kerja melibatkan warga sekitar
Tenaga kerja melibatkan warga sekitar

Industri ini juga membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar. Pak Atok memprioritaskan warga lokal sebagai tenaga kerja. Uniknya, ia menerapkan sistem pelatihan yang manusiawi: calon pekerja dilatih (training) dan tetap mendapatkan gaji selama masa pelatihan tersebut.


"Harapan pengusaha itu simpel, bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan menciptakan lapangan kerja baru," ujarnya.


Harapan untuk Pemerintah

Menutup wawancara, Pak Atok menyampaikan harapan besarnya kepada pemerintah. Ia berharap adanya perhatian lebih bagi pengusaha kecil, terutama dalam hal pengadaan bahan baku lokal.


"Apalagi kita butuh bahan lokal. Sebenarnya didoronglah (agar) nanti tersedia bahan lokal juga," harapnya. Ketergantungan pada bahan baku impor menjadi tantangan tersendiri, dan kemandirian bahan baku nasional tentu akan menjadi angin segar bagi industri shuttlecock tanah air di masa depan.


Sumber: Video "Industri Shuttlecock di Sidoarjo meningkatkan peran memajukan olahraga kebanggaan bangsa" – Tonton Video Lengkapnya di sini


 
 
 
bottom of page