top of page

Melesat ke Pasar Global: Industri Shuttlecock Lokal Indonesia Kian Kompetitif di Tengah Tantangan Bahan Baku

JAKARTA, 23 Januari 2026 – Industri alat olahraga nasional, khususnya pembuatan shuttlecock (kok), menunjukkan resiliensi yang luar biasa di awal tahun 2026. Meskipun sempat dibayangi isu kelangkaan bahan baku bulu angsa di pasar global, para perajin UMKM di sentra-sentra produksi seperti Tegal, Malang, dan Surakarta justru semakin gencar melakukan ekspansi pasar dan inovasi produk.



Ekspansi Ekspor dan Capaian Prestisius

Berdasarkan data terbaru hingga akhir tahun 2025, nilai ekspor industri alat olahraga Indonesia mengalami tren positif. Salah satu pencapaian yang mencuri perhatian dalam tiga bulan terakhir adalah keberhasilan UMKM asal Bandung yang didirikan oleh mantan atlet, Duthree Gigih Belatma, menembus pasar India.

Keberhasilan ini membuktikan bahwa kualitas kok buatan tangan ( hand-made ) Indonesia mampu bersaing dengan produk pabrikan internasional. Sertifikasi dari Badminton World Federation (BWF) dan PBSI menjadi kunci utama bagi produk lokal untuk diterima di pasar mancanegara, seperti Malaysia dan India, yang memiliki basis penggemar bulu tangkis yang besar.



pembuatan Shuttlecock secara hand-made di Malang
pembuatan Shuttlecock secara hand-made di Malang

Sentra Produksi Tetap Berdenyut

Di tingkat daerah, aktivitas produksi di sentra-sentra industri terus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah dan instansi terkait:

  • Tegal (Desa Lawatan): Melalui Festival Shuttlecock yang digelar secara rutin, desa ini memperkuat posisinya sebagai "ibu kota" kok nasional. Para perajin di sini mulai memanfaatkan sisa limbah produksi menjadi kerajinan bernilai ekonomis guna meningkatkan pendapatan.

  • Surakarta (Serengan): Pada pertengahan Januari 2026, pembinaan terhadap pengrajin kok rumah tangga terus dilakukan untuk menjaga standar kualitas produksi di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.

  • Batang: Industri rumahan di wilayah ini tercatat tetap konsisten memasok kok ke lebih dari 30 provinsi di Indonesia dengan omzet yang mencapai ratusan juta rupiah per bulan.


Tantangan Bahan Baku: Dilema Bulu Angsa

Meskipun permintaan pasar tinggi, industri ini menghadapi tantangan klasik yang belum sepenuhnya teratasi: pasokan bulu angsa. Kenaikan harga bahan baku impor dari Tiongkok dan Taiwan seringkali memangkas margin keuntungan para perajin.

"Bahan baku bulu masih menjadi kendala utama karena ketergantungan pada impor. Namun, kami fokus pada inovasi teknik penyeimbangan (balancing) dan pemilihan material agar tetap bisa bersaing secara harga tanpa mengorbankan kualitas terbang kok," ujar salah satu pengrajin lokal.

Prospek di Tahun 2026

Memasuki tahun 2026, industri shuttlecock nasional diprediksi akan terus tumbuh seiring dengan banyaknya turnamen internasional yang digelar di Indonesia, termasuk ajang Indonesia Masters 2026. Momentum ini dimanfaatkan oleh para produsen untuk memperkenalkan merek lokal kepada atlet dan klub mancanegara.

Transformasi digital juga mulai merambah industri ini. Banyak UMKM kok kini beralih ke pemasaran melalui platform e-commerce dan media sosial, yang terbukti memperpendek jalur distribusi dari bengkel produksi langsung ke tangan konsumen atau klub-klub bulu tangkis.



Komentar


bottom of page